Rachmadani Sebut Menyusui Sebagai Gaya Hidup yang Ramah Lingkungan

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Jawa Tengah, Rachmadani, menyebut menyusui merupakan gaya hidup yang ramah lingkungan.

Menurutnya, penggunaan susu formula syarat akan eksploitasi sumber daya alam sejak proses pembuatan di industri, distribusi, hingga penyeduhan.

Ia merinci, untuk memproduksi susu formula, industri membutuhkan air dan listrik. Susu tersebut kemudian dikemas menggunakan bahan yang susah terurai. Kemudian, dalam proses distribusi membutuhkan bahan bakar minyak.

Ketika sampai konsumen, proses penyeduhan juga tak lepas dari eksploitasi sumber daya alam.

Seperti menggunakan air yang telah dipanaskan baik menggunakan daya listrik maupun kompor gas. Kemasan susu formula juga akhirnya berakhir menjadi sampah.

Sementara itu, air susu ibu (ASI) secara alami dapat digunakan tanpa harus mengeksploitasi sumber daya alam. Serta tidak menimbulkan sampah setelahnya.

“Sampah emisi sumber daya yang dieksploitasi untuk susu bubuk bisa dihindari jika pemerintah dan masyarakat mendukung ibu menyusui,” ucapnya ketika talkshow dalam acara Festival Seni Budaya Peduli Alam Nusantara di Taman Indonesia Kaya, Minggu (22/9/2019).

Rachmadani menyebut, rendahnya angka ibu menyusui saat ini bukanlah semata kesalahan seorang ibu.

Menurutnya, untuk memperoleh lingkungan yang mendukung ibu menyusui diperlukan kerja sama dari berbagai pihak.

Koordinator Festival Seni Budaya Peduli Alam Nusantara, Ellen Nugraha menjelaskan, kegiatan ini merupakan rangkaian edukasi tentang perubahan iklim untuk masyarakat.

Sebelumnya telah diselenggarakan diskusi publik tentang krisis iklim pada 13 September dan akan dilanjutkan aksi turun ke jalan pasa 27 September.

“Prediksi BMKG, tahun 2040 Kota Semarang akan menjadi salah satu kota yang suhunya paling tinggi di Pulau Jawa dan kita akan mengalami kemarau yang lebih panjang serta curah hujan yang lebih sedikit. Lalu permukaan laut akan naik sementara tanah kita semakin menurun,” jelasnya.

Ia mengajak, masyarakat jangan hanya diam dan merasa aman karena belum terkena dampak langsung krisis iklim.

Menurutnya, jika pada 2030 suhu bumi tidak ditahan kenaikannya di bawah 1,5 derajat, maka akan masuk dalam pusaran bencana yang tak bisa dihentikan.

“2050 nanti sebagian dari Semarang sudah tenggelam. Ada gerakan yang bisa dilakukan masyarakat secara individual atau kolektif. Secara individu tentu saja gaya hidup yang hemat bahan bakar fosil, terutama untuk transportasi, listrik, dan industri,” sebutnya.

Masyarakat dapat memulai laju perubahan iklim dengan tak menggunakan kendaraan pribadi.

Menurutnya, penggunaan kendaraan pribadi semakin meningkatkan emisi karbon.

Ia mendorong pemerintah semakin memperbaiki transpotasi publik, menyediakan jalur pejalan kaki dan pesepeda.

“Perubahan individual itu tidak akan ada artinya kalau tidak ada kebijakan publik. Kita harus mendorong membuat kebijakan untuk menurunkan emisi karbon,” katanya.

Dalam acara yang memiliki tema Jeda untuk Iklim Semarang itu juga diisi edukasi kepada anak-anak melalui kolase membuat majalah, pemanfaatan sampah plastik dengan eco brick, dan pemilihan sampah.

Serta diskusi dengan pemateri dari Greenpeace dan AIMI dan dilanjtkan dengan penampilan musik.(*)

Sumber: Tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *