Ruang Laktasi: Terpaksa Menyusui di Toilet

Keberadaan ruang laktasi sangat membantu para bunda yang aktif di luar rumah mendapatkan ruang privasi guna memberikan ASI bagi si buah hati. Itu diakui Adhisty Primasari.

“Kadang kita tidak persiapan (untuk memberikan ASI). Lupa membawa penutup badan atau kain untuk menutupi (bagian sensitif). Padahal yang namanya anak, ketika sudah minta (ASI) tidak bisa ditawar-tawar,” terang ibu muda warga Kota Bengawan ini.

Terkait penyediaan fasilitas dan kualitas ruang laktasai di Kota Solo, dinilai Adhisty, cukup memadai. “Sudah bersih dan nyaman. Malah beberapa dilengkapi aroma terapi, sehingga membuat kita rileks. Itu juga berpengaruh dengan kenyamanan anak juga,” katanya.

Sedangkan ibu menyusui lainnya, Dewi Nurhayati Yuliandari memberikan masukan agar sejumlah ruang laktasi yang sudah lama berdiri diperbaiki karena terkesan kurang terawat. 

“Ada yang peralatannya kurang, ada yang pintunya tidak tertutup rapat. Jadi tinggal perawatannya saja. Mungkin dulu saat awal-awal bagus. Tapi seiring berjalannya waktu, perawatannya kurang diperhatikan,” ucap Dewi.

Bahkan di salah satu pusat perbelanjaan hanya tersedia satu ruang laktasi. Padahal bangunannya bertingkat. Kendala lainnya tidak dilengkapi petunjuk arah. “Pernah pengalaman main ke mal, anak menangis minta ASI. Muter-muter (cari ruang laktasi) tidak ketemu, akhirnya pulang. Setelaha saya curhat sama teman, ternyata di mal itu ada ruang laktasi. Ya seharusnya kalau mal atau gedung bertingkat lainnya ada satu ruang laktasi di setiap lantai. Jadi tidak perlu jalan jauh-jauh,” beber dia.

Ketersediaan fasilitas ruang laktasi di tempat publik mendapat pujian dari Daning Sari. Tapi sayangnya, malah di kantor-kantor  pemerintahan Kota Solo masih minim.

“Waktu itu anak saya usianya lima bulan. Karena belum terbiasa pakai botol, jadi minumnya langsung (dari payudara ibu). Kemudian saat mengurus dokumen (di salah satu kantor pemerintahan), tiba-tiba menangis minta ASI. Karena sudah cari-cari dan Tanya, ternyata tidak ada ruang laktasi. Terpaksa saya memberi ASI di toilet karena urusannya belum selesai. Untungnya kloset-nya duduk,” urai dia.

Terpisah, Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Surakarta Dini Rosa Siti Ayu mengatakan, organisasinya berbasis kelompok sesama ibu menyusui. Kegiatanya meningkatkan pengetahuan dan informasi  tentang manfaat ASI.

“Banyak ibu yang ternyata kurang edukasi sehingga mengalami banyak masalah untuk menyusui. Kita ada home visit untuk memberikan konseling,” jelasnya.

Edukasi tersebut akan lebih memantapkan pemahaman dan tekad ibu untuk memberikan ASI eksklusif. Selain edukasi, perlu adanya dukungan dari ayah dan keluarga besar.

“Menyusui ini bukan berarti hanya memberikan gizi pada anak, tapi manfaatnya lebih dari itu. Menyusui berpengaruh terhadap psikologi dan hormonal. Bagi ibu yang merasa produksi ASI-nya kurang tak perlu merasa minder, karena setiap permasalahan selalu ada solusinya,” urai dia. 

Tentang donor ASI, Dini mengatakan itu bersifat personal. Sebaiknya penerima maupun pendonor tetap melakukan sesuai prosedur. Seperti cek kesehatan dan melakukan screening test pada ASI. (atn/gis/wa)

(rs/atn/gis/per/JPR)

Sumber: Radar Solo

Facebook Comments
Ayo Berbagi Informasi :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *