Menyusui Ikut Andil Sehatkan Bumi dan Isinya

Penulis: Ayu Andriyani Achmanagara

Menyusui merupakan aktivitas alami yang keberadaannya laik dikampanyekan kembali. Hak bayi dan ibu tersebut tentu patut diperjuangkan. Mengapa? Menurut tha Lancet (2016), menyusui mampu mencegah kematian 823 ribu anak balita, kematian 20 ribu ibu karena kanker payudara, serta kehilangan 302 milyar dolar setiap tahunnya. Menyusui juga membantu mencapai 17 kunci tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Adanya World Breastfeeding Week (WBW) atau Pekan Menyusui Dunia (PMD) 1-7 Agustus setiap tahun bertujuan mengampanyekan aktivitas menyusui. Ide kampanye ini lahir pada tahun 1991 di basemen kantor UNICEF dan menjadi kampanye global utama dari WABA (World Alliance for Breastfeeding Action), sebuah jaringan individu dan organisasi dunia yang berfokus melindungi, meningkatkan, dan mendukung aktivitas menyusui. Pekan Menyusui Dunia dirayakan pertama kali pada tahun 1992 dan dirayakan setiap tahunnya hingga sekarang oleh lebih dari 120 negara di dunia.

Tahun 2020 ini, tema WBW menyoroti hubungan antara menyusui dan kesehatan planet, yaitu Support Breastfeeding for A Healthier Planet, “Dukung Menyusui untuk Sehatkan Bumi”. Jika berbicara tentang planet tempat hidup manusia, kita tidak hanya bicara tentang bumi itu sendiri tetapi juga isinya. Menyusui merupakan solusi berkelanjutan untuk sehatkan bumi dan generasi.

Berikut 6 (enam) fakta menyusui sehatkan bumi dan isinya.

  1. Menyusui menyelamatkan energi dan tidak memerlukan sumber yang mahal

Menyusui tidak membutuhkan bahan bakar fosil dan bahan bakar lain untuk memproduksi, mengemas, dan mendistribusikannya. Menyusui juga tidak memerlukan sumber yang mahal untuk mengonsumsinya. Kemasan, transportasi, persiapan dan media konsumsi yang mahal merupakan beberapa contoh yang tidak perlu ada saat menyusui. 

Di USA, lebih dari 32 juta kW energi digunakan untuk kebutuhan memroses, mengemas dan disribusi formula. Belum lagi pada level rumah tangga, sebanyak 200 gram kayu digunakan untuk merebus 1 liter air per hari per anak (usia 3 bulan/6x minum) atau 73 kg kayu per tahun. Secara keseluruhan memerlukan waktu 60 menit merebus air untuk keperluan persiapan konsumsi setiap harinya per anak.

  • Menyusui menjaga kelestarian sumber daya air

Meskipun ibu menyusui membutuhkan asupan cairan, namun ini tergantung pada cuaca, level aktivitas, dan lebih untuk memenuhi kebutuhan fisiologis. Berbeda dengan air yang dibutuhkan untuk memproduksi barang atau jasa, termasuk asupan pengganti ASI sampai dengan mengonsumsinya.

Untuk memproduksi 1 kg susu bubuk membutuhkan sekitar 4700 liter air (juga dipengaruhi lokasi geografis, sistem peternakan, dll). Pada level rumah tangga, dibutuhkan 1 liter air per hari untuk membuat asupan pengganti ASI, 2 liter air/ hari untuk mencuci dan membilas botol, ditambah air untuk mensterilkan botol dan dot setiap kali minum. 

  • Menyusui tidak menghasilkan banyak sampah

Menyusui tidak memerlukan proses produksi, kemasan, dan botol plastik yang nantinya berujung menjadi sampah. 

Sebanyak 150 juta kaleng dihabiskan untuk pemberian formula kepada 1 juta anak selama 2 tahun. Di USA, industri formula setiap tahunnya menyumbangkan 550 juta kaleng, 86 ribu ton metal, dan 364 ribu ton kertas ke tempat pembuangan sampah. 

  • Menyusui tidak meninggalkan jejak karbon (emisi gas) penyebab polusi dan perubahan iklim

Menyusui merupakan sumber makanan dan nutrisi alami serta berkelanjutan. Menyusui tidak memerlukan proses produksi, pengemasan, distribusi, dan persiapan konsumsi yang membutuhkan bahan bakar fosil sehingga meminimalkan jejak karbon (emisi gas). Penelitian di 6 negara Asia Pasifik dan Selatan menunjukkan emisi gas meningkat seiring dengan peningkatan penjualan formula bayi, lanjutan, dan pertumbuhan. Hal ini mempengaruhi polusi dan perubahan iklim.

Di Indonesia, emisi gas karbon akibat penjualan formula (susu bayi, lanjutan, pertumbuhan) pada tahun 2016 sebanyak 1.156.910 ton CO2 eq.

5)   Menyusui memberikan nutrisi terbaik dan aman saat bencana tanpa semakin membahayakan lingkungan

Bencana merupakan aktivitas bumi yang sering tidak dapat dihindarkan. Total bencana di Indonesia dari 1 Januari sampai 25 Juli 2020 adalah 1684 termasuk epidemi COVID-19, serta terdapat 3.675.895 pengungsi. Kita tahu, permasalahan yang pelik saat dan setelah terjadi bencana adalah ketersediaan pangan dan air bersih, sampah yang menumpuk, sulit mengakses kebutuhan energi, dan lainnya. Untuk membantu mengatasi masalah tersebut, tentu kita perlu solusi yang tidak semakin membahayakan bumi. Pada situasi bencana tersebut, menyusui: 

  1. memberikan nutrisi yang baik, zat kekebalan, dan keamanan pangan untuk bayi dan anak sehingga dapat bertahan hidup dan melindungi dari penyakit
  2. menyelamatkan ketersediaan pangan dan air bersih yang sangat dibutuhkan pengungsi
  3. tidak memerlukan listrik atau gas untuk memanaskan air
  4. tidak memerlukan air untuk mencuci peralatan
  5. tidak menambah beban sampah di pengungsian

Donasi asupan pengganti ASI saat bencana dan distribusinya yang tidak tepat, tidak hanya dapat mengganggu proses menyusui, meningkatkan angka kesakitan dan kematian bayi. Selain itu, juga dapat menambah beban lingkungan. 

6)   Menyusui menyehatkan bayi, ibu, dan keluarga

Menyusui memberikan sumber pangan alami dan berkelanjutan, menyelamatkan kehidupan bayi, meningkatkan kesehatan, perkembangan sosial dan ekonomi individu dan bangsa. Menyusui yang optimal memiliki dampak jangka pendek dan panjang untuk bumi dan isinya. 

Pada anak, menyusui dapat melawan penyakit infeksi, mengurangi kejadian diare, mengurangi risiko penyakit infeksi pernafasan dan telinga, mencegah karies gigi dan maloklusi, serta meningkatkan kecerdasan. Pada ibu (orangtua), menyusui membantu menjaga jarak kelahiran, mengurangi risiko kanker payudara dan ovarium, dan mengurangi risiko hipertensi. Kesehatan generasi sekarang dan masa depan tentu diperlukan sebagai lakon untuk menjaga kesehatan bumi. Sebaliknya, kesehatan bumi diperlukan untuk keberlangsungan hidup manusia sehingga akan mencapai keseimbangan.

Keenam fakta di atas membuktikan bahwa aktivitas menyusui perlu diperjuangkan dan dikampanyekan. Melalui Pekan Menyusui Dunia tahun ini, siapa pun kita, mari angkat topi, bergandengan tangan rekatkan jemari, dan melangkahkan kaki untuk ikut andil sehatkan bumi dan isinya.

Sumber:

  1. BPNI/IBFAN Asia. 2014. Formula for Disaster: Weighing the Impact of Formula Feeding vs Breastfeeding on Environment.
  2. BPNI/IBFAN Asia. 2015. Report on Carbon Footprint Due to Milk Formula: A Study From Selected Countries of The Asia-Pasific Region.
  3. BPNI/IBFAN dan AIMI. 2018. Green Feeding: To Achieve Global Nutrition Targets 2025https://www.bpni.org/wp-content/uploads/2018/11/Green-Feeding-RC-Carbon-Footprint-10-Asian-Countries.pdf
  4. Gribble, Karleen, dkk. 2019. Emergency Preparedness for Infant and Young Child Feeding in Emergencies (IYCF-E): an Australian Audit of Emergency Plans and Guidance.
  5. Rollins, dkk. 2016. Why Invest, and What It Will Take to Improve Breastfeeding Practices? The Lancet: Volume 387: 491-504.
  6. Smith, Julie P. 2019. A Commentary on the Carbon Footprint of Milk Formula: Harms to Planetary Health and Policy Implications.
  7. Victora, dkk. 2016. Breastfeeding In The 21st Century: Epidemiology, Mechanisms, And Lifelong Effect. The Lancet: Volume 387: 475-90.
  8. WABA. 2005. History. https://worldbreastfeedingweek.net/webpages/intro01.html
  9. WABA. 2020. Support Breastfeeding for A Healthier Planet.
Facebook Comments
Ayo Berbagi Informasi :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *