Tetap Menyusui Di Tengah Pandemi Covid-19

SEMARANG- Pandemi covid-19 yang melanda Indonesia mengubah pola kehidupan sehari-hari. Dalam kondisi darurat seperti muncul kekhawatiran, termasuk ibu menyusui.

Dalam topik kulgram Sahabat AIMI Jawa Tengah (SAJ) bulan Maret 2020 dengan narasumber dr Astri Pramarini, IBCLC mengupas hal tersebut. Tema yang diambil adalah Menyusui dan Corona Virus. Sebagai catatan, anggota SAJ mencapai 350 yang tersebar di seluruh Indonesia.

Konsultan Menyusui dan IBCLC ini menyarankan untuk melaksanakan PHBS (pola hidup bersih dan sehat).

Diantaranya cuci tangan dengan sabun, menghindari kontak erat dengan yang sakit flu, menerapkan etika batuk dan segera menghubungi tenaga kesehatan jika ada gejala demam, batuk, pilek dan kesulitan bernafas.

“Karena sebenarnya kita semua masih meraba-raba bersama apa sih covid-19 jadi apa yang disampaikan saat ini pun masih mungkin berubah. Sebagai bahan sumber dari Kemenkes, WHO, UNICEF maupun akun-akun resmi untuk mengatasi berita-berita yang banyak berseliweran saat ini,” ujar lulusan FK Unair tahun 2004 tersebut.

Lalu bagaimana untuk ibu yang sedang menyusui di tengah pandemi seperti ini? Astri, begitu dia biasa disapa, mengatakan, belum ada penularan lewat ASI atau penularan vertikal dari ibu ke janin. Pasalnya, penyebaran virus corona diketahui melalui droplet.

Selain itu, lanjut dia, kandungan ASI penuh dengan zat kekebalan tubuh. Bagi ibu yang memiliki rencana menyapih dalam waktu dekat atau menyampur ASI dan sufor tanpa indikasi medis disarankan ditunda terlebih dahulu.

“Agar bayi atau anak dapat manfaat maksimal dari menyusui,” ungkap dokter yang tinggal di Sidoarjo ini.

Lebih lanjut Astri mengatakan, salah satu efek lain dr pandemi adalah munculnya kondisi lock down atau pembatasan pergerakan manusia karena wabah. Misalkan, ada rencana untuk mixed feeding dengan formulai akan kesulitan untuk mendapatkan formula tersebut.

Dia menegaskan, dalam kondisi bencana, tak hanya pandemi virus corona, menyusui lebih menyelamatkan nyawa. Mengingat pentingnya ASI tak lantas begitu saja meredam kekhawatiran ibu menyusui.

Bagi ibu menyusui berprofesi sebagai tenaga medis yang kemungkinan bersinggungan dengan pasien terpapar virus tersebut, lantas apa yang harus dilakukan?

Astri menyebutkan, sampai saat ini tidak ada panduan khusus terkait tenaga kesehatan yang menyusui dan memerah ASI yang bertugas menangani pasien terkait covid-19. Panduan yang sudah ada adalah dari WHO untuk tetap menyusui dan memberikan ASI pada ibu yang terpapar virus corona ini. Antara lain memerah di tempat yang terpisah dari penanganan pasien, mencuci tangan sebelum dan sesudah memerah ASI, dan membersihkan permukaan alat-alat perah (jika ada) yang disentuh.

“Bila perlu bawa beberapa kit pompa sekaligus agar tinggal dipakai selama di RS,” katanya.

Adapun, untuk penyimpanan ASI perah sebaiknya tidak dibekukan melainkan dimasukkan ke lemari es untuk segera diminum keesokan hari. Menurut dia, ASIP beku zat kekebalan tubuhnya kalah banyak dibandingkan ASI segar. Saran lain adalah membersihkan permukaan botol sebelum masuk ke lemari pendingin.

Astri menegaskan kembali, konsumsi makanan yang harus dikonsumsi ibu menyusui. Seiring perkembangan pesat pandemi ini mitos-mitos semakin banyak beredar. Salah satunya mengonsumsi rempah-rempah demi menangkal covid-19.

“Pencegahan utama covid-19 ini mengurangi close contact (jarak dekat). Titik. Makanlah gizi seimbang yang akan membantu tubuh dalam kondisi optimal,” tegas Babywearing Consultant tersebut.

Menu empat bintang sangat mudah diolah dan disajikan untuk seluruh anggota keluarga. Terlebih, dalam situasi akhir-akhir ini untuk mengurangi keluar rumah.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah manajemen stres. Hal ini diperkuat dengan info-info yang beredar yang belum tentuk kebenarannya. Kondisi psikologis bisa mempengaruhi oksitoksin. Menyusui merupakan ikatan istimewa yang tidak bisa diwakilkan pada siapapun.

Buatlah momen sebagai penyemangat menghadapi pandemi ini. “Sepertinya penting untuk memilah-milah berita yang masuk dan meskipun awareness (kesadaran) tentang situasi terkini juga perlu dipikirkan,” katanya.

Upayakan menjauhi keramaian dan buat pengaturan bersama keluarga agar urusan rumah tetap jalan dengan kontak sangat minimal. Kesempatan untuk mengembalikan kesadaran hidup sehat dengan cuci tangan, gizi seimbang, tidak merokok dan olahraga.

Dalam laporan kasus menunjukkan kasus covid-19 yang fatal karena ada penyakit penyerta seperti asma, darah tinggi, PJK, diabetes.

“Menyusui di masa bencana ini bisa menyelamatkan nyawa, menjaga ketahanan pangan dan juga menenangkan. Mari kita pertahankan dan beri dukungan semaksimal mungkin untuk ibu-ibu tetap menyusui bayinya,” tutupnya. (hendrati)

Facebook Comments
Ayo Berbagi Informasi :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *